Jasa Uji Validitas dan Reliabilitas Kuisioner

Jasa Uji Validitas dan Reliabilitas Kuisioner – Master Consultan melayani uji validitas dan reliabilitas kuisoner dengan keunggulan

  1. Pengerjaan cepat satu hari bisa selesai
  2. Dikerjakan oleh teknisi yang handal dan pengalaman lebih dari 10 tahun
  3. Hasil yang presisi sesuai dengan teori dan praktik lapangan
  4. Biaya yang terjangkau bagi mahasiswa mulai Rp. 50.000
  5. Gratis konsultasi jika ada kesulitan
  6. Perbaikan jika ada revisi
  7. Layanan yang terus menerus tanpa ada hari libur atau malam hari
  8. Tunggu apa lagi, segera hubungi kami 081235850237 (Roy Halim)

MASTER KONSULTAN – JASA UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS KUISIONER

ROY NUR HALIM – 081235850237

Uji validitas dan reliabilitas menggunakan SPSS

Validitas berasal dari kata validity yang memiliki arti kebenaran atau keabsahan dalam konteks validitas instrumen berarti sejauh mana ketepatan suatu alat ukur dapat melakukan fungsi ukurnya. Arikunto mengartikan validitas sebagai sebuah ukuran yang menunjukkan keandalan atau kesahihan suatu alat ukur. Validitasi juga biasa diartikan sebagai keadaan yang menggambarkan tingkat instrumen bersangkutan yang mampu mengukur apa yang akan diukur.

Validitas berbicara mengenai bagaimana suatu alat ukur yang digunakan untuk mengukur apa yang ingin di ukur. Validitas berkaitan dengan permasalahan apakah instrumen yang digunakan pada pengukur suatu secara tepat. Jadi alat ukur tersebut
benar-benar dapat menjadi instrumen pengukuran yang menunjukkan realitas yang sebenarnya atau kenyataan pada suatu yang diukur. Sebagai contoh seseorang yang mengatakan bahwa gula itu rasanya manis, untuk menguji apakah benar bahwa gula itu rasanya manis dan untuk mengetahui ke-validan-nya maka dibutuhkan instrumen validitas, yaitu sebuah alat yang digunakan untuk mengukur yang diteliti yaitu rasa manis. Oleh karena itu dibutuhkan indra perasa. Untuk mempertanggungjawabkan validitasnya maka dilakukan uji reliabilitas, yaitu dengan menguji sesuatu yang ingin diuji dengan alat yang sesuai fungsinya untuk memastikan bahwa dari uji pertama kedua dan seterusnya dan seterusnya hasilnya
konsisten.

Alat ukur yang kurang valid menunjukkan validitas rendah sehingga menghasilkan data yang sulit dipercaya. Sebaliknya alat ukur yang valid menunjukkan kualitas yang tinggi sehingga data yang diperoleh lebih dapat dipercaya. Instrumen instrumen
dalam ilmu alam seperti meteran, timbangan, pengukur jarak dan termometer biasanya telah diakui validitas dan reliabilitasnya. Sebab sebelum instrumen-instrumen tersebut digunakan dan dipasarkan instrumen tersebut telah
diuji validitas dan reliabilitasnya.

Berbeda dengan ilmu-ilmu sosial dalam uji sosial terdapat instrumen yang sudah baku atau
standar, sebab telah teruji validitas dan reliabilitasnya akan tetapi banyak yang belum baku bahkan belum ada. Oleh karena itu seseorang peneliti harus mampu menyusun sendiri instrumen pada setiap Penelitian yang dilakukan dan menguji validitas dan reliabilitas terhadap instrumen yang disusun tersebut.

Instrumen yang reliabel belum tentu valid dan instrumen yang valid pada umumnya realibel. Sugiyono mencontohkan secara sederhana mengenai validitas dan reliabilitas “meteran yang diputus dibagian ujungnya jika digunakan untuk mengukur panjang sesuatu akan menghasilkan data yang sama (reliabel) akan tetapi hal ini tidak valid sebab ada yang putus. Sama halnya dengan penjual jamu yang berbicara di mana-mana jika obat yang dijual manjur atau reliabel tetapi selalu tidak valid
karenanya kenyataannya jamu tidak manjur”.

Sebuah instrumen bagian tes maupun non tes harus memenuhi syarat valid dan reliabel. Instrumen berupa tes jawabnya adalah salah dan benar, Sedangkan instrumen sikap jawabannya tidak ada yang salah atau benar, tetapi bersifat positif atau
negatif. Validitas dalam sebuah instrumen harus memiliki validitas internal dan migrasi eksternal.

Validitas internal

Validitas internal disebut juga dengan validitas rasional atau validitas logis yaitu kriteria yang ada dalam instrumen secara rasional atau logis kalau mencerminkan apa yang diukur. Intinya adalah fasilitas ini berbicara mengenai kesesuaian antara data hasil penelitian dengan keadaan yang sebenarnya. Kriteria validitas internal ada di dalam instrumen itu sendiri, yaitu instrumen yang dikembangkan berdasarkan teori-teori yang relevan validitas internal ini dapat dibedakan menjadi dua hal yaitu; validitas isi dan validitas konstruk.

Validitas Isi

Instrumen yang harus memiliki validitas isi adalah instrumen yang berbentuk tes untuk mengukur hasil belajar. Validasi adalah ketepatan suatu alat ukur ditinjau dari isi alat ukur tersebut. Suatu alat ukur dikatakan memiliki validitas isi apabila isi atau materi alat ukur tersebut betul-betul merupakan bahan yang representative terhadap pembelajaran yang diberikan. Oleh karena itu, untuk menguji validitas isi dilakukan dengan membandingkan antara isi instrumen dan potensi yang dikembangkan dan materi pelajaran yang dipelajari.

Dalam menyusun instrumen tes yang memiliki validitas isi, langkah yang harus dilakukan adalah menyusun instrumen tes berdasarkan materi pelajaran yang telah disampaikan atau dipelajari peserta didik dalam proses pembelajaran. Oleh karena itu, dalam menyusun instrumen yang sesuai dengan validitas isi butir-butir instrumen harus mengacu pada silabus, kompetensi yang dikembangkan, kompetensi dasar sampai pada indikator-indikator kompetensi. Butir-butir konsumen harus sesuai dengan indikator pencapaian kompetensi yang ditetapkan berdasarkan kompetensi dasar jika butir instrumen tidak sesuai dengan indikator maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut tidak memenuhi validitas isi.

Validitas konstruk

Validitas konstruk merujuk pada kesesuaian antara instrumen alat ukur dengan kemampuan yang ingin diukur berdasarkan teori. Widoyoko menjelaskan bahwa validitas konstruk mengacu pada sejauh mana suatu instrumen mengukur konsep dari satu teori yang menjadi dasar penyusunan instrumen. Sehingga dalam penyusunan instrumen ini harus berdasarkan pada teori dari variabel yang diukur, Kemudian dirumuskan definisi konseptual dan definisi operasional sehingga ditentukan sub
variabel dan indikator indikator yang akan diukur. Dari indikator ini kemudian dijabarkan dalam konstruk atau butir-butir instrumen baik dalam bentuk pernyataan maupun pernyataan. Penyusunan instrumen sebagaimana dalam langkah-langkah menyusun instrumen pengumpulan data.

Jika tidak ada keterkaitan antara butir instrumen dengan indikato,r definisi konseptual, definisi operasional dan teori tentang variabel yang diteliti maka dapat dikatakan bahwa instrumen tersebut tidak valid secara Konstruk. Oleh karena itu, instrumen tersebut tidak dapat digunakan untuk mengukur variabel yang diteliti, sebab data yang dihasilkan nantinya tidak dapat menggambarkan dan mewakili variabel yang diteliti.

Pengujian statistik konstruk dapat dilakukan dengan menggunakan pendapat ahli. Caranya adalah mengkonsultasikan hasil instrumen yang telah disusun berdasarkan teori dan ketentuan penyusunan instrumen pada ahli. Para ahli akan memberikan pendapat dan keputusan apakah instrumen yang disusun dapat digunakan tanpa perbaikan revisi atau dirombak total. Ahli disini adalah seorang ilmuwan yang menekuni atau menguasai bidang ilmu yang diteliti. Jumlah ahli yang digunakan minimal 3 orang dan mereka umumnya telah bergelar Doktor sesuai bidang ilmu yang diteliti. Penelitian dalam rangka tugas akhir perkuliahan seperti skripsi tesis dan disertasi tenaga ahli adalah dosen pembimbingnya meskipun punya belum bergelar Doktor misalnya Tembimbing S1 dalam menyusun skripsi dianggap sebagai ahli yang mahal instrumen penelitian yang disusun.

Setelah pengujian instrumen oleh para ahli langkah berikutnya adalah melakukan uji instrumen di lapangan Hal ini dilakukan untuk mengetahui faktor-faktor maupun butir instrumen tidak menutup kemungkinan secara teori instrumen tersebut telah menunjukkan validitas karena telah disusun berdasarkan langkah-langkah penyusunan instrumen yang baik dan benar namun dalam uji coba instrumen antara faktor-faktor dan butir-butir instrumen yang ada tidak valid sehingga mengurangi file dokumen secara keseluruhan dalam melakukan uji coba instrumen ini sebaiknya minimal 30 responden dengan jumlah responden tersebut nilai dan hasil pengukuran akan mendekati distribusi normal.

Ketentuan uji validitas ini adalah bahwa sebuah butir instrumen dikatakan valid jika memiliki sumbangan besar terhadap skor totalnya. Dengan kata lain sebuah butir instrumen dikatakan valid jika memiliki sumbangan besar terhadap skor totalnya.
Kesejajaran ini dapat diartikan sebagai korelasi. Oleh karena itu untuk mengetahui variabel butir instrumen yang digunakan rumus korelasi Product Moment. Untuk menguji alat ukur atau instrumen terlebih dahulu dicari harga korelasi antara bagian-bagian dari alat ukur secara keseluruhan dengan cara mengkorelasikan setiap butir dan alat ukur dengan skor yang merupakan jumlah setiap skor butir.

Validitas eksternal

Validitas eksternal adalah sebuah keadaan yang disusun berdasarkan fakta fakta empiris yang tak ada. Misalnya instrumen untuk mengukur budaya sebuah organisasi maka kriteria atau tolak ukur budaya organisasi yang digunakan didasarkan pada
kriteria yang telah ditetapkan dalam organisasi tersebut Sedangkan Valdesi internal dikembangkan dari teori-teori budaya organisasi yang telah dirumuskan oleh para ahli dengan demikian tulisan instrumen yang baik harus memperhatikan
teori dan fakta empiris di lapangan.

Bagaimana jika instrumen tidak valid

Jika dari hasil uji validitas instrumen tersebut terdapat atom yang tidak valid maka yang
harus dilakukan adalah.

  1. Menghilangkan atau mengugurkan item yang tidak valid tersebut sebab item tersebut tidak mampu menggambarkan data yang akan diteliti. Hal ini dilakukan jika terdapat item item pertanyaan yang dapat mewakili penggalian data dari software Apple atau indikator variabel yang ditentukan.
  2. Merevisi atau memperbaiki pertanyaan atau pernyataan angket yang tidak valid bisa jadi item yang tidak tersebut disebabkan oleh redaksi pertanyaan atau pernyataan yang tidak jelas atau membingungkan responden. Setengah angket direvisi kemudian dilakukan uji validitas ulang. Hal yang harus diingat di sini pastikan bahwa responden mengisi angket dengan serius dan pastikan bahwa angket yang direvisi lebih baik dari sebelumnya. Dengan cara ini adalah peneliti memerlukan waktu yang lama dan tidak ada jaminan angket yang diulang akan valid maka terus dilakukan revisi dan uji coba terus menerus.
  3. Meminta pendapat ahli caranya adalah mengkonsultasikan hasil instrumen yang telah disusun berdasarkan teori dan ketentuan penyusunan instrumen. Seseorang ahli akan memberikan pendapat dan keputusan apakah instrumen yang disusun dapat digunakan atau tidak atau harus dilakukan perbaikan televisi atau dirombak total ahli di sini adalah seorang ilmuwan yang menekuni atau menguasai bidang ilmu yang diteliti jumlah ahli yang digunakan minimal 3 orang dan umumnya bergerak Doctor.

MASTER KONSULTAN – JASA UJI VALIDITAS DAN RELIABILITAS

ROY NUR HALIM – 081235850237